Label

Selasa, 29 Januari 2013

Pahlawan Bangsaku


Getih Suci nyiram bumi.. Tulang setra mulang lemah ..babakti nyungkem pertiwi..cikal Bugang putra bangsa..
Sebait lagu lama ini dahulu kerap saya  dengar ketika saya masih kecil belum masuk SD masa di awal-awal tahun 80han, Ibuku Almarhum suka menembangkannya saat menjelang tidur, dan menceritakan dan mengkisahkan maksud lirik lagu yang menceritakan seorang Pemuda bernama Mohammad Toha, Pejuang dari Bandung Selatan yang rela gugur menjadi pahlawan kusuma bangsa dengan meledakan dirinya di Gudang  persenjataan Belanda.

Hari Pahlawan  tahun ini,entah kenapa membuka kenangan  saya akan masa kecilku yang indah bersama Ibuku, pada salah satu  Dendang dan dongeng sebelum bobonya, tentang  sosok patriot dayeuh kolot Moh. Toha. Pahlawan Bandung  Selatan ini, memang sosok legenda masyarakat Jawa Barat khususnya Bandung , walau sejarahnya tidak dipopulerkan dalam buku-buku sejarah Nasional. Namun justru bagi saya pribadi dan umumnya masyarakat Sunda tatar Jawa Barat Moh. Toha menjadi sosok Pahlawan yang luar biasa karena  dari pengorbanan dan keberaniannya, dengan membayangkan kisah yang pasti heroiknya jika digambarkan, bagaimana tidak , mungkin hanya ada satu diantara seribu pejuang  yang mampu menyusup kedalam Gudang  Persenjataan  yang dijaga ketat musuh,dan rela meledakan dirinya hingga tubuhnya  luluh lantak berkeping-keping   bersama gelegar dan hancurnya gudang senjata musuh yang membuyarkan rencana Belanda yang akan membumihanguskan Bandung Selatan.

Suatu Kisah Kepahlawanan yang luar biasa yang sebenarnya penting menjadi insfirasi bagi kalangan anak muda para tunas bangsa saat ini, dimana kondisi krisis patriotisme di negri ini membutuhkan adanya upaya menghembuskan kembali tiupan-tiupan semangat kepahlawanan, semangat perjuangan, pengorbanan dan nasionalisme yang dibutuhkan agar tegak kembali mental patriotik bangsa ini di tengah  jiwa dan mental bangsa yang dilanda dekadensi moral, Hedonisme , yang lupa akan jati dirinya sebagai karakter Pejuang. Sehingga sudah semestinya dibangun kembali setidaknya dengan sejarah romantisme perjuanganr para Pahlawan masa lalunya.

Seharusnya sejarah kepahlawanan bangsa ini menjadi kebanggaan bagi kita dari kisah-kisah heroic dan kesungguhan mereka dalam merebut kemerdekaan demi anak cucunya yaitu kita-kita ini yang menikmati perjuangannya, dan bagi kita yang masabodoh dengan sejarah semoga perkatan Bung Karno mampu menjadi sindiran dengan istilah yang sangat popular “Jasmerah”  jangan sekali-sekali melupakan sejarah Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para Pahlawannya. Tentu Hal ini memang diperlukan suatu upaya yang sungguh-sungguh dari segenap individu bangsa ini, dari mulai para elit dan tak terkecuali masyarakat bawah terutama tentunya dalam upaya internalisasi semangat Kepahlawanan pada para pemuda generasi penerus bangsa.

Dan akhirnya dalam hal ini sayapun merasa menemukan tiga kebanggan sekurang-kurangnya sebagai modal membangkitkan kembali patriotisme dalam diri saya , yaitu  Bangga pada Sosok Pemuda Moh. Toha sebagai insfirasi kepatriotan dari sosok pemuda yang terang-terangan memilih syuhada demi kemerdekaan bangsanya dari cengkaraman penjajah, Bangga pada Ibuku  sebagai sosok Ibu yang baik dan menyenangkan sebagai Insfirasi dalam mendidik tunas bangsa selanjutnya setidaknya dalam pendidikan keluarga   bagi anak-anakku nantinya, dan bangga pada jamanku jaman yang masih kudapatkan dalam sebagian masa kecilku, dimana jaman kesederhanaan hidup di desa yang belum ada listrik, dan belum memiliki hiburan  tontonan layar kaca, tapi mengenalkanku pada kenangan-kenangan manis mendengarkan  Kisah, Dongeng, nasihat dari Ibu, Ayah, dan kakak. Masa yang sulit lagi kita temukan di era komunikasi canggih masa kini, Selamat hari pahlawan, Nyatana Pahlawan Toha, Pahlawan Bandung Selatan, Patriot ti Dayeuhkolot,  Tugu diwangun ngajadi saksi.  (adin)